Beratnya Ujian Kelapangan Dan Kesenangan

Ada perkataan yang perlu kita ingat bahwa: “Orang arif itu merasa lebih khawatir atau takut dalam keadaan lapang dari pada dalam kesempitan, dan tidak dapat tegak diatas batas adab dalam keadaan lapang itu, kecuali sedikit sekali.”

Artinya seorang yang arif yang mengenal Allah Ta’ala, jika merasa lapang lebih khawatir dan takut dari pada dalam kesempitan. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Abu bakar shidiq radiyallahu ‘anhu berkata: “kami diuji dengan kesukaran maka kami tahan sabar, akan tetapi jika kami diiuji dengan kesenangan dan kelapangan, hampir kami tidak sabar.”

Seorang pernah juga mengatakan bahwa: “Semoga Allah tidak memberi kepadamu rasa kelezatan hawa nafsumu, sebab jika engkau merasakan kelezatan, maka tidak akan merasakan kebaikan untuk selamanya.”

Allah memberikan ujian dalam bentuk kebaikan dan keburukan sebagai cobaan, karena dalam kesenangan itu lebih disukai nafsu. Contohnya mana lebih kita sukai dipuji atau dicaci? Mana yang lebih disukai nafsu tahajud atau tidur lagi? Mana yang lebih enak bagi nafsu makan lezat atau shaum? Jadi kesenangan itu ibarat pupuk bagi nafsu, semakin dipenuhi semakin senang, jika senang semakin tenggelam, yang membuat seseorang semakin lupa dengan tuhannya.

Kemudian, orang yang tidak memiliki uang tidak akan membeli barang-barang berharga yang tidak bermanfaat bagi dirinya, sedangkan orang yang banyak uang, kecenderungan untuk bermewah-mewahnya lebih besar atau menghambur-hamburkan uang hanya untuk memuaskan hawa nafsunya. Dan belum tentu ada manfaatnya bahkan membawa mudarat. Begitu juga dengan orang yang diberi penampilan rupawan lebih berat dibandingkan dengan yang kurang rupawan, karena orang yang rupawan punya kecenderungan pamer wajah dan badan. Makanya kita tidak boleh kecewa jika diberi wajah yang kurang rupawan, boleh jadi itu bagian dari perlindungan Allah untuk kita, karena orang yang rupawan mudah tergelincir ke dalam hal yang maksiat.

Oleh karena itu jangan sampai nikmat kesenangan dan kelapangan yang ada melalaikan kita, dengan pemberi nikmat yaitu Allah Ta’ala. Lebih berhati-hati lagi adalah bahwa nikmatnya kelezatan itu membuat kita lupa dengan kebaikan. Wallahua’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.