Follow Us

STABILITAS SEKTOR JASA KEUANGAN JAWA BARAT TETAP RESILIEN DAN KONTRIBUTIF DALAM MENDUKUNG PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL

Bandung, 15 April 2024


Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat
menilai stabilitas sektor jasa keuangan Jawa Barat pada posisi Triwulan I Tahun 2024
terjaga dan resilien dengan kinerja keuangan yang bertumbuh dan memiliki indikator
prudensial yang memadai.
Perkembangan Sektor Perbankan
Perkembangan kinerja Perbankan di Jawa Barat pada Februari 2024 mengalami
pertumbuhan positif secara yoy tercermin dari beberapa indikator antara lain Aset
tumbuh 7,70 persen, Dana Pihak Ketiga tumbuh 5,97 persen dan Kredit tumbuh 8,76
persen. Pertumbuhan penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan per Februari
2024 di Jawa Barat mencapai Rp614,7 triliun yang ditopang oleh 63 entitas BU/BUS
dan 252 BPR/BPRS. Nominal ini setara dengan porsi 8,67 persen dari total kredit
nasional atau terbesar kedua setelah DKI Jakarta. Tingkat NPL terjaga di level 3,28
persen, membaik dibanding posisi bulan Februari 2023 yang tercatat sebesar 3,53
persen.
Bank Umum yang berkantor Pusat di Jawa Barat juga mencatatkan kinerja
pertumbuhan yang lebih baik dibanding rata-rata perbankan di Jawa Barat, antara
lain tercermin Aset tumbuh 8,05 persen, Dana Pihak Ketiga tumbuh 6,74 persen dan
Kredit tumbuh 8,88 persen. Kinerja tersebut didukung oleh dua Bank Umum, yaitu
Bank BJB dan Krom Bank Indonesia, serta satu Bank Umum Syariah, yaitu Bank BJB
Syariah.
Kredit Bank Umum Konvensional mencapai Rp532 triliun serta memiliki porsi sebesar
86,54 dibanding seluruh kredit di Jawa Barat dan tumbuh 8,48 persen (yoy). Rasio
NPL gross juga terjaga pada level 3,08 persen. Sementara pembiayaan Bank Umum
Syariah mencapai Rp60,33 triliun serta memiliki porsi sebesar 9,81 persen dibanding
seluruh kredit di Jawa Barat dan tumbuh 12,07 persen (yoy). NPF juga terjaga pada
level 2,35 persen. Penyaluran Kredit/Pembiayaan BPR & BPR Syariah mencapai
Rp22,42 triliun serta memiliki porsi sebesar 3,65 persen dibanding seluruh kredit di
Jawa Barat Jabar dan tumbuh 6,68 persen (yoy). NPL gross cenderung meningkat
menjadi level 10,3 persen.
Total penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Nasional per Maret 2024 mencapai Rp
49,9 triliun, sedangkan KUR di Jawa Barat mencapai Rp5,3 triliun yang disalurkan
kepada 93.836 pelaku usaha atau memiliki porsi 9,84 persen dibandingkan total
penyaluran KUR Nasional. Berdasarkan skema pembiayaan KUR, sektor mikro
memiliki porsi paling besar yaitu mencapai Rp3,47 triliun atau 64,9 persen
dibandingkan total penyaluran KUR di Jawa Barat.
Kinerja Keuangan Non Bank
Piutang pembiayaan di Jawa Barat pada Januari 2024 mencapai Rp75,7 triliun atau
tumbuh positif sebesar 10,4 persen yoy, meningkat tipis dibanding akhir tahun 2023

yaitu 10,3 persen yoy namun NPF masih terjaga di level 2,93 persen. Berdasarkan
jenis penggunaan, piutang pembiayaan didominasi oleh pembiayaan multiguna
sebesar 63,6 persen disusul dengan pembiayaan investasi sebesar 22,1 persen dan
pembiayaan modal kerja 8,5 persen. Kinerja Perusahaan Pembiayaan tersebut
ditopang oleh 1.331 kantor perusahaan pembiayaan baik kantor cabang maupun
kantor pemasaran.
Pada Januari 2024, jumlah perusahaan fintech peer to peer lending yang berizin
sebanyak 101 perusahaan dengan nominal pembiayaan di Jawa Barat mencapai
Rp16,55 triliun kepada 4,71 juta debitur. Dari sisi tingkat wanprestasi di atas 90 hari
sejak jatuh tempo (TWP 90) yaitu sebesar 3,77 persen.
Kinerja Pasar Modal
Sampai dengan Maret 2024, total Single Investor Identification (SID) di Jabar mencapai
2,7 juta, atau tumbuh 15,6 persen dibanding periode tahun sebelumnya. Jawa Barat
menjadi Provinsi dengan jumlah SID terbanyak atau mencapai 22,1 persen secara
Nasional. Hal ini menunjukkan antusiasme warga untuk mengakses produk keuangan
Pasar Modal. Selama dua bulan pertama tahun 2024, total transaksi saham dari Jawa
Barat mencapai Rp36,6 triliun, terbesar ketiga setelah DKI Jakarta & Jawa Timur.
Sementara jumlah investor pasar modal terkait kepemilikan Surat Berharga Negara di
Jawa Barat mencapai 199.889 investor, terbesar kedua setelah DKI Jakarta. Saat ini
sudah ada 75 perusahaan dari Jawa Barat yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dari
sektor perbankan, telekomunikasi, properti dan industri makanan & minuman.
Program Edukasi dan Kemitraan
Dalam rangka peningkatan literasi keuangan di Jawa Barat, Kantor OJK Provinsi Jawa
Barat telah melakukan sebanyak 57 kegiatan edukasi pada bulan Januari s.d. Maret
2024 dengan total jumlah peserta edukasi sebanyak 12.106 orang dari berbagai
segmen antara lain pelajar, pelaku UMKM sampai dengan masyarakat umum serta
segmen khusus yaitu Penyandang Disabilitas.
Sedangkan dari fungsi pelindungan konsumen, Kantor OJK Provinsi Jawa Barat telah
menangani 1.060 pengaduan yang didominasi dari sektor Perbankan (34,06 persen),
Fintech Lending (25,94 persen), Perusahaan Pembiayaan (16,04 persen) dan Asuransi
(3,3 persen). Dari sisi pelayanan pemberian informasi debitur SLIK, Kantor OJK Jawa
Barat telah memberikan pelayanan terhadap 9.918 permintaan SLIK.
Dalam rangka wujud inisiasi pemerataan kesejahteraan melalui inklusi keuangan di
daerah, Kantor OJK Provinsi Jawa Barat bersinergi dengan Pemerintah Daerah,
Industri Jasa Keuangan dan stakeholder lainnya telah membentuk TPAKD tingkat
Provinsi Jawa Barat dan TPAKD tingkat Kabupaten/Kota di 27 Kabupaten/Kota di
Jawa Barat.
Adapun program percepatan akses keuangan yang telah diimplementasikan sampai
dengan Maret 2024 yaitu antara lain program Kredit/Pembiayaan Sektor Pertanian
sebesar Rp537,2 miliar kepada 5.672 orang petani, program Kredit Masyarakat
Ekonomi Sejahtera (Mesra) berkolaborasi dengan Bank BJB sebesar Rp82 miliar
kepada 17.771 UMKM, penyaluran Kredit Usaha Rakyat sebesar Rp5,3 miliar kepada

98.836 debitur dan Kredit Jaringan Wirausaha Sejahtera (Jawara Bedas) berkolaborasi
dengan BPR Kerta Raharja sebesar Rp56,5 miliar kepada 27.428 UMKM.
Selain itu, program percepatan akses keuangan yang diimplementasikan di wilayah
Kantor OJK Cirebon antara lain program kredit dalam rangka pemberantasan rentenir
yang disalurkan oleh BPR di wilayah Cirebon dan Kuningan sebesar Rp12 miliar
kepada 1.789 Debitur dan di wilayah Kantor OJK Tasikmalaya yaitu program kredit
dalam rangka pemberantasan rentenir yang disalurkan oleh BPR di wilayah Sumedang
dan Ciamis sebesar Rp25,6 miliar kepada 1.562 Debitur
Sedangkan untuk perkembangan program Satu Rekening Satu Pelajar di Jawa Barat
sampai dengan Maret 2024, jumlah rekening simpanan pelajar mencapai 5,3 juta
rekening dari total pelajar Jawa Barat sebanyak 8,6 juta pelajar dengan nominal Rp1,4
triliun.
Kampanye Nasional Keuangan Syariah
Sepanjang bulan Ramadan 2024 (1445 H), Kantor OJK Provinsi Jawa Barat telah
melaksanakan program Kampanye Nasional Keuangan Syariah melalui kegiatan yang
bertajuk Gebyar Ramadan Keuangan Syariah 2024 (GERAK Syariah) dengan tema
“Berburu Berkah Ramadan melalui Keuangan Syariah”.
Rangkaian kegiatan GERAK Syariah dilaksanakan secara masif dengan bersinergi dan
berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan antara lain Pelaku Usaha Jasa
Keuangan, Pemerintah Daerah, Akademisi, Media serta masyarakat umum. Terdapat
66 kegiatan GERAK Syariah yang diselenggarakan sepanjang bulan Ramadan 1445H
baik secara offline maupun online yang melibatkan peserta dan partisipan sebanyak
60.174 orang. Hal ini dilakukan dalam rangka mengoptimalkan momentum Bulan
Ramadan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah serta
meningkatkan awareness dan pemahaman masyarakat terkait produk dan layanan
keuangan syariah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *